Sunday, July 31, 2011

Keep It Save : Dont Say NO


Salah seorang teman saya yang sangat saya sayangi sedang melakukan hal yang menurut saya sangat berpotensi menyakiti orang lain. Well... minimal, hal yang dia lakukan ini pernah menyakiti saya walau tidak dengan cara yang persis sama.

Teman saya, sebutlah miss O, sedang merasa kesepian dan sedang dalam masa pemulihan setelah berpisah dari orang yang dia sayangi. Di masa penyembuhan ini, datanglah pria lain yang menaruh hati padanya dan dengan jelas menyatakan niatnya untuk membuktikan cintanya pada miss O. Miss O tidak tertarik pada pria ini, tetapi tidak secara gamblang menyatakan ketidaktertarikan dan tidak menyatakan penolakan sama sekali. Kenapa? Karena teman saya takut kesepian.
Mengetahui keadaan ini, saya marah. Dengan gamblang saya katakan bahwa dia tidak berhak memberikan harapan kosong pada pria itu. Pria itu berhak dicintai. 'Kelabilan hati lo, itu urusan lo, jangan libatkan orang lain, lo cuma bakal nyakitin dia' kata saya.

Perilaku teman saya ini membuka kembali luka lama di hati saya. Beberapa tahun lalu, pria yang saya sayangi ternyata 'sayang- sayangan' alias flirting dengan wanita lain di belakang saya secara digital.

Dari penelusuran yang saya lakukan, wanita yang disayang- sayang tersebut tidak memiliki perasaan apa- apa terhadap kekasih saya, wanita ini tidak membalas flirting kekasih saya, tetapi dia juga tidak menolak atau menegur kekasih saya, padahal dia sudah mengenal saya dan tahu kekasih saya sudah memiliki saya.
Saya sangat membenci kekasih saya saat itu. Jika dia memang tidak menginginkan saya, kenapa dia harus mendekati saya dan menjadikan saya kekasihnya. Dia tidak akan mendapatkan wanita yang dia inginkan melalui saya. Saya adalah saya.
Saat itu, saya juga sangat membenci wanita lain yang selalu disayang- sayang oleh kekasih saya secara digital. Sebagai wanita, bukannya dia seharusnya tahu perasaan saya dan bisa menegur kekasih saya?
Saya merasa, saya berhak dicintai dengan layak, dicintai dengan jujur.

Mungkin saat itu tidak ada yang cukup peduli bahwa hati saya bisa terluka.
Tidak ada yang cukup peduli...

Untukmu teman, dari hati yang paling dalam, saya memohon.. jangan permainkan hati pria itu. Hatinya sama seperti hatimu... bisa terluka.